Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Archive for the ‘Tafsir Kawruh Jiwa’ Category

Pernikahan ‘ala’ Kawruh Jiwa

Posted by Wijayanto on March 11, 2009

Ki Wagiman, sebagai pemuka Kawruh Jiwa, diberi wewenang oleh pemerintah untuk dapat bertindak sebagai “penghulu” nikah di komunitas KJ.

Pernikahan pertama ala KJ, sudah dilangsungkan pada tanggal 18 Maret 2009 yang lalu. Sayang saat itu saya tidak dapat menyaksikan jalannya acara pernikahan, karena saya pulang malam dari mengikuti kunjungan ke Perusahaan Djarum – Kudus.
Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Peristiwa, Tafsir Kawruh Jiwa, Umum | 18 Comments »

Wohing ajaran Kawruh Jiwa

Posted by Wijayanto on April 16, 2008

Solo Pos, 27 Maret 2008

Ki Ageng Suryemantaram (KAS) miwiti mbabaraken ajaran kawruh begja wonten ing Desa Kroya, Bringin, Kabupaten Semarang, antawisipun sedasa kilometer ing sisih ler, saking kitha Salatiga.
Ajaran utawi filsafat kawruh begja kawiwitan saking sumerepipun Ki Ageng dhumateng hakikatipun tiyang, ingkang miturut Ki Ageng ing saben tiyang punika wonten kalih perangan ”Aku”, inggih punika ”Aku tukang nyawang” kaliyan ”Aku kramadangsa”. Filsafat kawruh begja punika sakmenika langkung moncer kanthi sebatan kawruh jiwa. Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa, Umum | 8 Comments »

Senang / bahagia dan susah / celaka

Posted by Wijayanto on September 28, 2007

Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus menerus bahagia, bukanlah hidup yang baik ( George Loewenstein) — itulah tulisan awal dari Ninok Leksono yang dimuat di harian Kompas, 16 Mei 2007 yang berjudul “Uang dan Ilmu Bahagia”

Ya.. Seperti halnya “falsafah” dalam Kawruh Jiwa (KJ) yaitu “Langgeng Bungah Susah”, para pelajar KJ, menyadari sepenuhnya adanya rasa senang dan susah yang silih berganti.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Mulur mungkret (mengendor dan mengerut)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Konsep mulur mungkret (mengendor dan mengerut) disampaikan Ki Ageng Suryomentaram (KAS) dalam upaya untuk memahami keinginan manusia. Setiap manusia (normal) pasti memiliki keinginan, keinginan yang selalu bertambah-tambah, sesuai dengan ‘nature’ manusia yang tidak pernah puas. Sebaliknya jika keinginannya tidak tercapai, seringkali manusia menurunkan target keinginannya.

Contohnya, orang yang ingin memiliki kendaraan. Semula ingin memiliki sepeda motor, jika sudah tercapai ingin memiliki mobil sederhana, sudah tercapai, ingin memiliki mobil yang lebih bagus, ingin memiliki lebih dari satu mobil, dan seterusnya. Ini adalah keinginan yang ‘mulur‘ (mengendor)

Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

AKU tukang nyawang

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Aku tukang nyawang (ATN) mungkin lebih tepat disebut dalam bahasa Indonesia sebagai Aku pelihat, atau Aku pengamat. Dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram (KAS), ATN ini ada dalam hubungannya dengan Aku kramadangsa (AK). Dalam pemahaman di luar Kawruh Jiwa, mungkin ATN ini identik dengan roh, sedangkan AK identik dengan tubuh + jiwa. Sedikit berbeda dalam beberapa konsep tentang manusia adalah ‘posisi’ hati nurani. Pada berbagai pendapat, hati nurani sering dianggap sebagai suara ‘Tuhan’– sehingga lebih dekat dengan ‘roh’. Sedangkan dalam ajaran KAS, hati nurani adalah bagian dari AK.

Mencoba memahami ATN dan AK
Menurut cerita Ki Harsono, saat dia masih bersekolah, hidup bersama dengan KAS, suatu kali ketika akan berangkat sekolah, dipanggil oleh KAS, dan diminta untuk memegang ‘aku’. Kira-kira berikut ini dialog antara KAS dan Ki Harsono

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa, Tentang "aku" | 13 Comments »

Tegar (tatag)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Salah satu ‘kelebihan’ yang dimiliki oleh para Pelajar Kawruh Jiwa (KJ), adalah ketegarannya dalam menghadapi cobaan hidup. Seorang pelajar KJ, yang isterinya terbaring dirumah sakit karena menderita kanker, dapat menunggui isterinya dengan wajah yang ‘biasa’ tanpa kesedihan yang berarti, bahkan sambil menunggui isteri di rumah sakit, masih sempat mengerjakan tugas-tugas kantornya.

Seorang teman saya pernah bercerita, ada seorang ibu yang anaknya (masih SMA) meninggal dunia karena sepeda motor yang dikendarai menabrak tiang listrik, tidak menangis dalam acara pemakaman anaknya, dan hanya berkata pada orang-orang yang keheranan, ” Ya.., kalau saya ya inginnya anakku tidak mati, tapi dia sendiri maunya begitu….”

Seorang pelajar KJ di Klaten, Jawa Tengah, ketika sadar rumahnya roboh karena gempa (Mei 2005), hanya bergumam, “Ya nggak apa-apa, besok bikin rumah lagi”. (padahal orang ini belum tahu akan mendapat uang dari mana untuk membangun rumahnya kembali)

Salah satu falsafah yang dipegang para pelajar KJ adalah mensyukuri apapun yang dialami. Prinsipnya adalah aku mau kini, disini, begini, artinya menerima keadaan apapun saat ini. Bukan kemarin atau yang sudah lewat, karena yang sudah lewat adalah ‘cathetan’ (pengalaman) dan bukan pula yang akan datang, sebab yang akan datang adalah ‘anggitan‘ (angan-angan/imajinasi). Prinsip kekinian ini membuat pelajar KJ menjadi tegar dalam menghadapi kejadian apapun yang dialaminya.

Ditambah lagi pemahaman bahwa kejadian adalah netral, dan yang menjadi masalah adalah tanggapan/sikap terhadap kejadian yang dialami oleh seseorang. Hal inilah antara lain yang menyebabkan para pelajar KJ memiliki ‘kere waja‘ (tirai baja), yang mampu ‘melindungi’ diri dari pengaruh-pengaruh yang dapat merusak diri, termasuk (khususnya) berbagai kekuatiran karena kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Tahu dan Merasa Tahu (weruh lan ngira weruh)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Ketika seseorang memiliki keyakinan tertentu (yang kemudian diungkapkannya dalam bentuk pendapat, sikap atau tindakan), sebenarnya ada 2 kemungkinan yang terjadi.  Pertama orang itu tahu tentang keyakinannya tersebut.  Kedua, orang itu merasa tahu tentang keyakinannya tersebut.

Contoh: orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada,–pertama– karena tahu bahwa Tuhan itu memang ada (pernah “bertemu” dengan Tuhan); — kedua– merasa tahu bahwa Tuhan itu ada. Orang percaya bahwa Nabi “A” itu akan menuntun kepada surga, karena tahu bahwa Nabi “A” itu akan menuntun ke surga atau karena ‘merasa tahu’ bahwa Nabi “A” itu akan menuntun ke surga.  Bahkan ketika orang percaya bahwa surga dan neraka itu ada, pun ada 2 kemungkinan: tahu atau merasa tahu bahwa surga dan neraka itu ada.

Orang tahu karena pengalamannya, dan ada 3 kemungkinan sebab orang merasa tahu.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | 2 Comments »

Pengalaman (catatan = cathetan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Pengalaman (cathetan = catatan) adalah apa saja yang terekam dalam pikiran dan hati manusia.  Pengalaman ini menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana manusia bertindak atau bersikap menghadapi kenyataan yang ada.

Misalnya kenyataannya adalah gelap, ada orang yang takut (karena berimajinasi kalau gelap itu = hantu) ada yang biasa saja menghadapi  suasana gelap.  Penampakan hantu (seandainya benar-benar ada penampakan, bukan imajinasi), dihadapi oleh sebagian orang dengan ketakutan, sebagian orang dengan biasa-biasa saja.  Kematian seseorang, dihadapi sebagian orang dengan dukacita, sebagian dengan biasa-biasa saja.  Mengapa bisa demikian?
Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Kenyataan (kanyatan, kasunyatan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Kenyataan adalah kejadian yang ada sekarang ini.  Kejadian yang sudah lewat adalah kenyataan ketika kejadian itu berlangsung, dan sekarang sudah menjadi pengalaman (cathetan = catatan).  Kejadian yang akan terjadi kemudian adalah imajinasi (anggitan).  Bahkan lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kenyataan adalah begini, disini dan kini.   Sebab jika bukan kini, maka itu masa lalu (pengalaman) atau masa depan (imajinasi), jika bukan begini dan disini, itu merupakan cerita, yang katanya (jarene).

Ketika memberi kuliah manajemen produksi kepada mahasiswa, saya tunjukkan video yang menggambarkan kegiatan yang ada di pabrik genting yang modern, itu adalah “gambaran tentang pabrik genting” dan bukan “pabrik genting”.  Yang sedang saya tunjukkan adalah gambaran atas kenyataan, bukan kenyataan.   Itu berbeda ketika saya memberi kuliah aplikasi komputer di laboratorium komputer, kemudian saya tunjukkan kepada mahasiswa, ini CPU (central processing unit), ini monitor, ini keyboard, ini program Windows XP, ini program Microsoft Office 2003, saya sedang menunjukkan kenyataan, bukan gambaran atas kenyataan.
Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | 1 Comment »

Imajinasi (anggitan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Hidup dengan imajinasi adalah hidup yang “tidak hidup” atau bahkan “lebih hidup”, karena tidak berpijak pada kenyataan yang sebenarnya.

Imajinasi (anggitan) seringkali dapat membuat menusia dapat melakukan hal-hal yang besar, hal-hal yang luar biasa dan istimewa. Imajinasi-lah yang menuntun langkah-langkah hidup seseorang. Seorang pemuda melangkah pergi apel ke rumah si gadis pujaan, karena berimajinasi besok akan meminang si gadis dan dapat menikahinya, dan melahirkan anak-anaknya dan seterusnya. Seorang lulusan SMA masuk kuliah di perguruan tinggi karena berimajinasi besok setelah lulus kuliah dapat memperoleh pekerjaan yang baik. Saya menulis di blog ini karena berimajinasi bahwa blog ini dibaca dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »