Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Archive for the ‘Hidup sehari-hari’ Category

Wejangan Kawruh Laki-Rabi

Posted by Wijayanto on November 28, 2010

Ini (akan) disampaikan oleh Ki Wagiman Danu Rusanto, pada pasangan pengantin, tanggal 1 Desember 2010.
Pasangan pengantin ini sebenarnya beragama Kristen dan Islam, namun yang Kristen mengalah, menikah di KUA. Untuk menghindari rasa tidak nyaman jika “ular-ular” disampaikan oleh salah satu pihak, maka Ki Wagiman dari KAWRUH JIWA, diminta menyampaikan ‘ular-ular’-nya.

Garis besar ular-ular itu, termuat dalam beberapa bait tembang berikut ini:
Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Peristiwa, Umum | Leave a Comment »

Pernikahan ‘ala’ Kawruh Jiwa

Posted by Wijayanto on March 11, 2009

Ki Wagiman, sebagai pemuka Kawruh Jiwa, diberi wewenang oleh pemerintah untuk dapat bertindak sebagai “penghulu” nikah di komunitas KJ.

Pernikahan pertama ala KJ, sudah dilangsungkan pada tanggal 18 Maret 2009 yang lalu. Sayang saat itu saya tidak dapat menyaksikan jalannya acara pernikahan, karena saya pulang malam dari mengikuti kunjungan ke Perusahaan Djarum – Kudus.
Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Peristiwa, Tafsir Kawruh Jiwa, Umum | 18 Comments »

Kawruh Jiwa, Rompi Ontrokusuma dan Ki Theodorus Pujiono

Posted by Wijayanto on January 12, 2008

dikutip dari tulisan Ki Tri kadarsila di http://salatiga.bforum.biz , tepatnya di:
http://salatiga.bforum.biz/kawruh-jiwa-ilmu-bahagia-f11/kawruh-jiwa-rompi-ontrokusumo-dan-ki-theodorus-pujiono-t54.htm

Ki Ageng Suryomentaram (KAS) pd periode 1920-1928 di Yogya menulis Buku Langgar memuat 28 tulisan yng menurut saya (2003) mrpkn ‘surat politik’ dan keberpihakannya kpd ‘gerakan politik prakemerdekaan’. Ttp Ki Purwanto Subakhir (PS) (2006) melihat kumpulan surat tsb sbg wejang dan peta strategi pembelajaran-rasa Kawruh JIwa (KJ). Pada surat ke-3 bertajuk “Kere waja dateng Paman Karsana, dhik Mantri Pamicis, utawi Pak Suta” oleh PS ditafsir sbg lanjutan Surat ke 2 yang membahas ttg ‘kehendak’ (Jw: karep). Kere-waja dlm surat tsb diartikan pula sbg ‘rompi/kutang Ontrokusumo’ — yg dlm mitos Sunan Kalijaga dianggap sbg ‘senjata inkulturasi penyebaran Islam berbasis budaya Jawa di Pantai Utara Jawa’ (pen). Rompi tsb juga ditafsir sbg rompi-terbang bertanda bintang 8 di bagian dada milik R.Gatutkaca satria Pringgadani anak Wrekudara.

Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Umum | 3 Comments »

Mulur mungkret (mengendor dan mengerut)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Konsep mulur mungkret (mengendor dan mengerut) disampaikan Ki Ageng Suryomentaram (KAS) dalam upaya untuk memahami keinginan manusia. Setiap manusia (normal) pasti memiliki keinginan, keinginan yang selalu bertambah-tambah, sesuai dengan ‘nature’ manusia yang tidak pernah puas. Sebaliknya jika keinginannya tidak tercapai, seringkali manusia menurunkan target keinginannya.

Contohnya, orang yang ingin memiliki kendaraan. Semula ingin memiliki sepeda motor, jika sudah tercapai ingin memiliki mobil sederhana, sudah tercapai, ingin memiliki mobil yang lebih bagus, ingin memiliki lebih dari satu mobil, dan seterusnya. Ini adalah keinginan yang ‘mulur‘ (mengendor)

Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Tegar (tatag)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Salah satu ‘kelebihan’ yang dimiliki oleh para Pelajar Kawruh Jiwa (KJ), adalah ketegarannya dalam menghadapi cobaan hidup. Seorang pelajar KJ, yang isterinya terbaring dirumah sakit karena menderita kanker, dapat menunggui isterinya dengan wajah yang ‘biasa’ tanpa kesedihan yang berarti, bahkan sambil menunggui isteri di rumah sakit, masih sempat mengerjakan tugas-tugas kantornya.

Seorang teman saya pernah bercerita, ada seorang ibu yang anaknya (masih SMA) meninggal dunia karena sepeda motor yang dikendarai menabrak tiang listrik, tidak menangis dalam acara pemakaman anaknya, dan hanya berkata pada orang-orang yang keheranan, ” Ya.., kalau saya ya inginnya anakku tidak mati, tapi dia sendiri maunya begitu….”

Seorang pelajar KJ di Klaten, Jawa Tengah, ketika sadar rumahnya roboh karena gempa (Mei 2005), hanya bergumam, “Ya nggak apa-apa, besok bikin rumah lagi”. (padahal orang ini belum tahu akan mendapat uang dari mana untuk membangun rumahnya kembali)

Salah satu falsafah yang dipegang para pelajar KJ adalah mensyukuri apapun yang dialami. Prinsipnya adalah aku mau kini, disini, begini, artinya menerima keadaan apapun saat ini. Bukan kemarin atau yang sudah lewat, karena yang sudah lewat adalah ‘cathetan’ (pengalaman) dan bukan pula yang akan datang, sebab yang akan datang adalah ‘anggitan‘ (angan-angan/imajinasi). Prinsip kekinian ini membuat pelajar KJ menjadi tegar dalam menghadapi kejadian apapun yang dialaminya.

Ditambah lagi pemahaman bahwa kejadian adalah netral, dan yang menjadi masalah adalah tanggapan/sikap terhadap kejadian yang dialami oleh seseorang. Hal inilah antara lain yang menyebabkan para pelajar KJ memiliki ‘kere waja‘ (tirai baja), yang mampu ‘melindungi’ diri dari pengaruh-pengaruh yang dapat merusak diri, termasuk (khususnya) berbagai kekuatiran karena kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »