Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Pernikahan ‘ala’ Kawruh Jiwa

Posted by Wijayanto on March 11, 2009

Ki Wagiman, sebagai pemuka Kawruh Jiwa, diberi wewenang oleh pemerintah untuk dapat bertindak sebagai “penghulu” nikah di komunitas KJ.

Pernikahan pertama ala KJ, sudah dilangsungkan pada tanggal 18 Maret 2009 yang lalu. Sayang saat itu saya tidak dapat menyaksikan jalannya acara pernikahan, karena saya pulang malam dari mengikuti kunjungan ke Perusahaan Djarum – Kudus.

Ya.. tapi dari cerita yang saya dapatkan langsung dari Ki Wagiman, ketika menikahkan anaknya sendiri dengan ‘cara’ KJ, tampak kesederhanaan, bukan kerumitan syarat-syarat orang menikah.

Mengapa sederhana? Ya.. menurut ajaran Suryamentaram, syaratnya orang menikah cuma ada lima (5)
1. padha manungsane (sama-sama manusia)
2. padha uripe (sama-sama masih hidup)
3. lanang karo wadon (laki-laki dengan perempuan)
4. padha dewasane (sama-sama dewasa)
5. padha geleme (sama-sama mau)

Cuma itu. Lalu bagaimana urusan surat menyurat? Ya.. prinsip di KJ antara lain “sabutuhe, saperlune, sacukupe”, jadi ya tidak diada-adakan yang tidak diperlukan.

Oh ya.. sebenarnya KJ bukan kepercayaan tertentu, melainkan hanya filsafat, namun karena oleh pemerintah dianggap sebagai aliran kepercayaan, ya.. jadi boleh menikahkan sepasang manusia yang akan berumah tangga. Dari KJ diteruskan di Catatan Sipil dan bereslah urusan pernikahan.

Yang boleh dinikahkan oleh aliran kepercayaan, tentunya bukan yang sudah memeluk agama tertentu. Untuk mengatasi ini, ya.. kalau calon mempelai sudah beragama (ditunjukkan dengan KTP-nya), ya tinggal bikin KTP sementara dan di isian “Agama” ditulis “Lainnya”. Begitu saja sudah beres…, tidak perlu macam-macam syarat yang memberatkan seolah-olah mengurus pernikahan adalah pekerjaan yang luar biasa rumit.

Bagaimana jika setelah menikah kembali ke agamanya semula, ya silakan saja, itu hak asasi manusia, apalagi KJ bukan agama dan bukan pengganti agama. Tetap beragama ya silakan.., tidak beragama ya silakan.. Negara menjamin kebebasan memeluk/tidak memeluk suatu agama. Yang penting tidak melanggar Pancasila, tetap harus ber-Ketuhanan.

Manusia itu ya sudah sepantasnya menikah.. ya asal sudah memenuhi ke-5 syarat diatas, ya silakan menikah.. Gitu aja kok repot…

18 Responses to “Pernikahan ‘ala’ Kawruh Jiwa”

  1. Robertho Simson said

    Sipp….!!!

  2. triwidodo said

    Maturnuwun Mas Wijayanto, sederhana, tidak membelenggu dan logis. Sungguh Luar Biasa.

  3. Denny said

    It’s a simple ideas in complex world.
    Tidak salah untuk mengganti yang komplek menjadi simpel sepanjang substansi masih terjaga.
    It’s gratfull

  4. […] kami berkunjung ke Ki Wagiman, bersama STR dan Bejo untuk ngobrol-ngobrol tentang kehidupan ini, ada beberapa hal yang kembali […]

  5. sunarno said

    lima syarat pernkahan ini sempat sy diskusikan dgn kawan sy di Paris(asli Indonesia-Jawa).dia krng sependapt,krn belum mencantumkn 1 hal.yaitu perkawinan kaum lesbi(gay).krn kaum gay ini sdh mnjadi kemutlakan adanya di dunia ini.ketika itu sy jawab,perkawinan menurut Kawruh Jiwa ini yg dimaksud adlh perkawinan yg membuahkn hasil keturunan(sebagai regenerasi).bagaimana Kawruh Jiwa menanggapi hal ini?

  6. Wijayanto said

    @Sunarno,
    Menurut ‘pelajaran’ di KJ, hakikat hidup itu untuk melestarikan jenis (ber-generasi), tumbuhan hidup, berbunga-berbuah-muncul tunas baru. Binatang, kawin-punya anak-muncul binatang baru. Demikian juga manusia-menikah-punya anak-muncul bayi. Itu sudah “nature” dari hidup.
    Lesbian/gay, menyimpang dari ‘nature’ ini. Bukannya tidak boleh, boleh-boleh saja, tapi apa benar? Ingat di KJ kita mencari “yang benar” atau yang “sebenarnya”.

  7. URIP~HIDUP kuwosone MOBAH lan POLAH lenggahing ROSO JATI.
    URIP~HIDUP berasal dari Gusti Kang Moho Suci. Kita semua berasal dari Yang Tunggal.
    URIP~HIDUP kita adalah sama yang membuat perbedaan adalah WADHAGNYA~RAGANYA.

    Maturnuwun Kang Mas Wijayanto, saya bisa menyimak wewarah Ajaran URIP~HIDUP Kawruh Jiwo dari Ki Ageng Suryomentaraman.

    Salam Kekadangan & Sihkatresnan

  8. Kiprijo said

    menurut KJ, memang pokok /hakikat pernikahan itu hanya untuk “melestarikan jenis “. Menurut saya, ke absahan pernikahan memang boleh sederhana, tetapi jangan lupa KJ timbul dari budaya Jawa, Oleh karena itu, ritual pernikahan Jawa tetap harus dilakukan. Ritual itu antara lain, Midodareni, temu, srah srahan, dll.

  9. Wijayanto said

    @Koprijo,
    ritual pernikahan Jawa tetap harus dilakukan

    siapa yang mengharuskan?

  10. kiprijo said

    Yang mengharuskan pelaksanaan ritual pernikahan Jawa ya kesadaran orang tua yang mantu, yang “jawa”

  11. Wijayanto said

    @Kiprijo,
    hehe… ‘jawa’ bagian mana? Ki Ageng Suryamentaram juga ‘jawa’ lho..beliau salah satu putra Sultan Hamengku Buwono VII

  12. kiprijo said

    Wong Jawa karo wong sing “jawa” beda kan ?. Memang KAS wong Jawa jing “jawa”. Jadi wong Jawa jing “jawa” mestinya menggunakan juga ritual pernikahan adat Jawa

  13. MULYO said

    Kiprijo durung gaduk yake, apa maneh aku. Yo gene kok nganggo KTP barang yen arep rabi, ngrepoti. Agger syarat 5 wis komplit rak wis. Wong wadon kuwi legan, randha apa bojone wong ora urus. Sing penting pada senenge. Negara mawa tata desa mawa cara, lha iki carane KJ (?). Tenan tah ? “Perkawinan syah apabila syah menurut agamanya” sak liyane iku ana “syah apabila syah menurut KJ (?)” …… manut tradisi Jawa ….. Jawa sing endi. Endi sing diarani Jawa ? lemahe, uwonge, sikile apa endase uwonge ? Ora nutut, jan pol ora gaduk, apa maneh aku. Malah malah2 ditambahi “hak azazi” pooooooooooooooolllllllllll. Mulane aku mentas wae telpon pak Grangsang atmajane Ki Ageng Suryamentaram kepingin nduweni buku2ne. Kareben ngerti kaya apa sejatine “ajarane” ki Ageng. Aku nyuwun duka Ki, yen cangkemku dlangap2 ora duwe duga senajan ngaku wong Jawa. Nanging aku tetep nduweni keyakinan nganti wektu aku nulis iki paling ora, yen ajarane Ki Ageng ngandhut sesurupan kang adiluhung. Wassalam

  14. Yada said

    Thanks ya pak…

  15. Wijayanto said

    @MULYO
    Kiprijo durung gaduk yake, apa maneh aku. Yo gene kok nganggo KTP barang yen arep rabi, ngrepoti. Agger syarat 5 wis komplit rak wis. Wong wadon kuwi legan, randha apa bojone wong ora urus.

    haha, tidak seperti itu Pak MULYO,
    KJ juga memperhatikan NORMA-NORMA yang berlaku,
    ada prinsip dalam KJ, “SAPERLUNE SABENERE, SABUTUHE, SACUKUPE, SAMESTINE, SAPENAKE”
    jangan salah tangkap, 6 prinsip itu ada penjelasannya, jangan ditangkap hurufiah,

    silakan belajar KJ lebih intensif, jika mau lebih memahami.
    Lha itu bagus, menghubungi Ki Grangsang, (di Jakarta),atau Ki Pras (Jogja , cucu Ki Ageng).
    kalau sempat ke Salatiga, coba bertemu Ki Wagiman, yang secara sederhana mampu menjelaskan prinsip-prinsip dalam KJ

  16. bapake_zendjati said

    Kiranya lebih digali dan diteliti kembali ajaran KAS dengan mempelajari perikehidupan beliau. Beliau adalah penganut Islam yg baik, beliau belajar Islam di perguruan muhammadiyah. Artinya yg beliau sampaikan tidak sesederhana itu, itu filsafatnya. Secara formal, tetap mengacu kepada hukum dan aturan agama. Jangan mengambil ajaran beliau sepotong-potong, apalagi nyari ‘sapenake’.

  17. setuju,………

  18. warju said

    ohhhhh ngoten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: