Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

AKU tukang nyawang

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Aku tukang nyawang (ATN) mungkin lebih tepat disebut dalam bahasa Indonesia sebagai Aku pelihat, atau Aku pengamat. Dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram (KAS), ATN ini ada dalam hubungannya dengan Aku kramadangsa (AK). Dalam pemahaman di luar Kawruh Jiwa, mungkin ATN ini identik dengan roh, sedangkan AK identik dengan tubuh + jiwa. Sedikit berbeda dalam beberapa konsep tentang manusia adalah ‘posisi’ hati nurani. Pada berbagai pendapat, hati nurani sering dianggap sebagai suara ‘Tuhan’– sehingga lebih dekat dengan ‘roh’. Sedangkan dalam ajaran KAS, hati nurani adalah bagian dari AK.

Mencoba memahami ATN dan AK
Menurut cerita Ki Harsono, saat dia masih bersekolah, hidup bersama dengan KAS, suatu kali ketika akan berangkat sekolah, dipanggil oleh KAS, dan diminta untuk memegang ‘aku’. Kira-kira berikut ini dialog antara KAS dan Ki Harsono

  • KAS: Har, peganglah aku!, nanti aku beri uang jajan…
  • Ki Harsono: memegang tangan KAS
  • KAS: itu tanganku…
  • Ki Harsono: kemudian memegang kepala KAS
  • KAS: itu kepalaku…
  • Ki Harsono: kemudian memeluk KAS
  • KAS: itu badanku…
  • Ki Harsono: kemudian menutup mulut KAS, (karena berpikir yang bilang ‘aku’ adalah mulut KAS)
  • KAS: itu mulutku…
  • Ki Harsono: ??????
  • KAS: ya sudah, sana berangkat sekolah.
  • Ki Harsono kemudian berangkat ke sekolah dengan tanpa mengerti apa maksud KAS tentang ‘aku’.

Itulah antara lain cara KAS mengajarkan konsep-konsep yang dia kemukakan kepada orang lain.

Lalu, apa yang dimaksud ‘aku’ menurut KAS?

Mungkin, untuk memudahkan memahami ATN dan AK, dapat digunakan kata-kata ‘aku’, ‘diriku’ dan ‘saya’,

  • Aku mewakili ATN
  • Diriku mewakili AK
  • Saya mewakili ATN + AK

Ketika tangan sakit, maka aku tahu bahwa tanganku sedang sakit
Ketika perut lapar, dan akan segera pergi ke warung makan, maka aku tahu bahwa perutku lapar dan diriku ingin segera ke warung makan. Saat ini saya berencana, bahwa bulan depan akan ke Jakarta, maka aku yang tahu bahwa diriku akan pergi ke Jakarta bulan depan.
Pertanyaannya,

  • “Apakah aku yang tahu bahwa tangan sakit adalah diriku yang merasa sakit?”
  • “Apakah aku yang tahu bahwa perut lapar, dan berencana pergi kewarung makan sama dengan diriku yang perutnya lapar dan berencana pergi ke warung?”

Atau misalnya ketika sedang jatuh cinta pada seorang gadis (saya laki-laki), maka aku tahu bahwa diriku sedang jatuh cinta.

  • Apakah aku yang tahu bahwa saya sedang jatuh cinta sama dengan diriku yang sedang jatuh cinta?

Bagaimana membedakan antara aku dan diriku?
Peran aku hanyalah mengamati, melihat, mengetahui apa saja yang dilakukan, dirasakan, aialami diriku, karena itu oleh KAS aku ini disebut sebagai aku pengamat/pelihat (aku tukang nyawang /ATN– aku yang pekerjaannya melihat)

Memahami dan menyadari adanya ATN yang selalu melihat diriku, akan menolong orang untuk selalu memiliki ‘pangawikan pribadi’ (pengendalian diri) karena setiap rasa, sikap dan tindakan selalu ada yang mengawasi (yaitu ATN) dan kehadiran pengawas ini selalu disadari, karena ATN itu bersama-sama dengan diriku (AK) ada dalam “saya”.

Paling tidak ini dialami oleh para Pelajar Kawruh Jiwa, yang mengalami perubahan diri ke arah yang lebih baik, dengan memahami posisi ATN dan AK ini. Antara lain, (contoh praktis) yang sering marah-marah, menjadi lebih sabar, jarang bahkan tidak pernah marah-marah lagi, karena ketika akan marah langsung sadar bahwa ada ‘aku’ yang tahu bahwa diriku akan marah, dan teredamlah rasa marah yang terpendam itu.

Konsep mengenai ATN dan AK adalah konsep yang mendasari dari seluruh ajaran KAS yang lain, untuk menuju menjadi orang yang memiliki ‘pangawikan pribadi’ (pengendalian diri), menjadi orang yang memiliki ‘tirai baja’ (kere waja) ketika menghadapi cobaan-cobaan hidup, dan menjadi pribadi tanpa belenggu atribut-atribut personal/sosial (‘pribadi tanpa ciri’ – ‘mandireng pribadi’)

13 Responses to “AKU tukang nyawang”

  1. […] rasa sendiri bagi mereka merujuk kepada rasa dalam dimensi mental atau jiwa. Seperti karya-karya Ki Ageng Suryo Mentaram. Di wilayah “kasunyatan” atau alam nyata disebut hawa, sedangkan di wilayah sukma […]

  2. […] cahaya, melainkan sebuah pribadi Mentari, sang manusia cahaya, ‘Ingsun’. ‘Aku Tukang Nyawang‘ (Aku Sang Pengamat), istilah Ki Mentaram. Barangkali bisa digambarkan sebagai sosok Sri […]

  3. Robertho Simson said

    Memahami ATN dan AK membawa kita berada dalam situasi “saiki, kene, ngene, gelem”

    Tapi apakah yang memahami itu bukan bagian dari si Kromodongso yang senantiasa menganalisa? Ataukah ada Tukang Nyawang yang benar2 tanpa motif, bebas dari analisa, dan benar2 melihat sesuatu “apa adanya”?

    • peter ingemar said

      Menurut saya ATN itu sifatnya pasif, sebab kalau kita melibatkan perasaan atau pemikiran yang menimbukan perasaan yang memaknai yang dilihat/ disawang maka ATN berubah menjadi hasrat atau karmadangsa itu sendiri.
      Jadi dalam nyawang bukan memaknai tapi menyadari makanya kesadaran tsb hanya ada pada ‘saiki’dan ‘neng kene’
      Maaf itu hanya menurut pendapat saya yang masih banyak kesalahan
      Peter ingemar

    • peter ingemar said

      Sedikit menambah pengertian dalam nyawang pada ATN , pada saat suatu perasaan timbul pada waktu terjadinya interaksi antara manusia dengan manusia lain atau dengan barang maka diharapkan ATN dapat nyawang dan mengetahui perasaan yg timbul tadi .proses mengetahui hanya bisa didapat apabila terjadi analisa.tapi dalam konteks kesadaran ini penganalisaan tidak memekai otak tapi intuitif dari kecerdasan itu sendiri.dan biasanya proses tsb hanya berlangsung dalam bilangan detik.
      Makanya apa bila manusia sudah biasa nggujengi aku , intuisinya akan berkembang pesat.
      Begitilah yg saya rasakan mohon dikoreksi apabila ada kesalahan
      Peter ingemar

  4. Wijayanto said

    @Robertho Simson,
    hm.. pertanyaan yang bagus,
    itu masih menjadi bahan diskusi diantara beberapa dari kami,
    Jelasnya, ada yang berpendapat bahwa ATN juga ‘mencatat’ namun cenderung banyak yang berpendapat bahwa ATN hanya melihat saja. yang mencatat, menganalisis ya si AK. Dari ‘definisi’ ATN (tukang melihat) maka cenderung dipahami bahwa ATN itu ‘melihat’ saja.

  5. surya esa said

    ketika aku bisa menonoton sebuah peta,itulah aku,aku bukan hanya rasio dan bukan pula hanya perasaan,bukan juga badan tapi sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.panca indra dipsahkan hanya untuk menunjuk kegunaan,ada perbedaan antara memahami dan mengetahui,banyak orang bisa mengetahui tapi belum tentu mamahami,tapi yang memahami pasti mengetahui.kapan dibutuhkan ATN,kapan dibutuhkan AK,silahkan.ketika orang bisa mengatakan silahkan dg tulus,itulah yg diharapkan KAS.

  6. […] cerita. Suatu kali Suryamentaram memanggil bocah bernama Harsono yang hendak pergi ke sekolah. “Har, […]

  7. peter ingemar said

    Banyak buku2 baru yang saya baca yang menceritakan bagian2 dari manusia, disitu diterangkan mengenai hati nurani/suara Tuhan, roh kemudian ada yangmembahas ego ,dimana semua itu menurut saya hanyalah teory semata.
    Dalam memahami kaweruh jiwo, seperti yg KAS ajarkan bahwa manusia itu adalah rasa, maka sebaiknya jangan membahas aku dengan pikiran karena akan merubah akau yg nyata menjadi theory .biarlah aku ini tetap dalam roso sehingga keberadaanya lebih mudah dimengerti .aku ono, aku weruh dsb…
    Dengan kata lain aku akan lebih mudah dimengerti oleh roso dari pada dipikir
    Maaf sedulur kalau saya masih salah dalam menafsir
    Salam.
    Peter ingema

  8. peter ingemar said

    Dalam rangka perubahan dari menungsa karmodongso menjadi menungso tanpo tenger .diperlukan laku berobat.
    Apabila dirinya sakit maka dia bisa minta tolong dokter untuk menyembuhkanya, tapi hanya diri sendirilah yg bisa menyembuhkan jiwanya sendiri.
    Untuk mengetahui sakit/kesalahan program pada jiwanya lebih sulit.makin tua umurnya makin sulit karena programnya sudah mengakar.
    Hanya full concioussnesnyalah yang bisa menyembuhkannya, kesadaran tentang aku ono, aku weruh tadilah yang dapat meriprogram aku karmadangsa sehingga menjadi benar.sehingga jiwanya menjadi sehat dan sinkron.
    Kamodongso konangan> Karmodongso mati!!!!!!!

  9. Menurut hemat saya, AK = ego, diri, aku (dalam bahasa umum), sedangkan
    ATN = awareness (keelingan) dalam bahasa umum.

    Ketika orang aware (eling) akan segala pikiran, perasaan, keinginan dsb yg berkecamuk, maka pada saat itu fenomena yg dielingi itu berhenti/padam. Ketika muncul marah, kalau dielingi, marah itu langsung padam. Ketika muncul melamun, kalau dielingi, lamunan itu langsung padam.

    Siapakah “aku yg eling” (ATN)? Pertanyaan ini salah, karena yg bertanya itu adalah AK (pikiran) lagi; oleh karena itu pertanyaan ini tidak berjawab. Di dalam eling itu sendiri tidak ada aku/ego/diri/subyek. Yang ada hanyalah ‘apa yg ada’, dikatakan juga suwung, sunya.

  10. inti darii kehidupan ini adalah keseimbangan atau selaras /harmoni baik keseimbangan secara fisik dan jiwa , manusia dg alam. mikro kosmos dan makro kosmos dapat di capai dengan pikir yang terlatih /dapat input dari ajaran yg rasional (KAS) akan menemukan jati dirinya…dg ditandai kepercayaan diri yg tinggi..yg membuat ora gumunan, ojo dumeh ….(pengalaman pribadi)…rahayu..rahayu…rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: