Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Pengalaman (catatan = cathetan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Pengalaman (cathetan = catatan) adalah apa saja yang terekam dalam pikiran dan hati manusia.  Pengalaman ini menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana manusia bertindak atau bersikap menghadapi kenyataan yang ada.

Misalnya kenyataannya adalah gelap, ada orang yang takut (karena berimajinasi kalau gelap itu = hantu) ada yang biasa saja menghadapi  suasana gelap.  Penampakan hantu (seandainya benar-benar ada penampakan, bukan imajinasi), dihadapi oleh sebagian orang dengan ketakutan, sebagian orang dengan biasa-biasa saja.  Kematian seseorang, dihadapi sebagian orang dengan dukacita, sebagian dengan biasa-biasa saja.  Mengapa bisa demikian?
Semua tergantung dati pengalaman yang dimiliki oleh seseorang.  Jika sejak kecil dididik (diberi pengalaman) dengan pengertian bahwa malam=gelap=hantu=menakutkan, maka kemungkinan orang itu akan menjadi orang yang takut gelap.  Jika sejak kecil dididik (diberi pengalaman), bahwa kematian itu biasa, tidak perlu ditangisi, maka setelah dewasapun akan biasa menghadapi kematian.  Tetapi karena anak kecil merekam kejadian (mendapat pengalaman) orang-orang yang menangis ketika menghadiri pemakaman kerabatnya, jadinya setelah dewasa pun dia akan menangis ketika menghadiri pemakaman kerabatnya.

Catatan hidup dan catatan mati:
Manusia tidak dapat menghilangkan catatan (pengalaman) hidupnya, tetapi dapat untuk tidak “menghidupkan” catatan-catatan yang pernah ada.  Contohnya, waktu kanak-kanak saya suka bermain hujan-hujanan ketika turun hujan di siang hari.  Saya bisa berhujan-hujan ria, tetapi sekarang, hal itu tidak lagi saya lakukan, saya punya catatan tenang bermain hujan-hujanan, tetapi saya sudah tidak menghidupkan catatan-catatan masa kanak-kanak.

Catatan bisa juga menjadi “mati” karena ada  catatan baru yang ditimpakan kepada catatan yang lama.  Contohnya orang yang berpindah agama/keyakinan.  Semula seseorang punya catatan bahwa yang akan membawa ke surga adalah nabi “A”, kemudian mendapat catatan baru bahwa yang bisa membawa ke surga adalah nabi “B”, berpindahlah seseorang itu dari satu agama ke agama yang lainnya.

Manusia hidup (bersikap dan bertindak) didasari oleh catatan-catatan.  Catatan yang salah dapat menghasilkan sikap dan tindakan yang salah.  Kita perlu setiap kali meneliti catatan-catatan kita, apakah kita memiliki catatan yang salah, apakah kita masih menghidupkan catatan-catatan yang seharusnya sudah mati? Contoh menghidupkan catatan yang seharusnya sudah mati adalah seseorang yang selalu teringat dan terbayang-bayang pada kekasihnya yang terdahulu, padahal kenyataannya sekarang sudah punya kekasih yang baru, yang menjadi pendamping hidupnya.

Dalam hubungan dengan orang lain, adalah bahwa catatan tiap-tiap manusia berbeda-beda.  Mengetahui dan memahami bahwa pengalaman (catatan) orang lain berbeda dengan catatan kita, membantu kita untuk tidak ‘fanatik’ terhadap catatan kita sendiri.  (ingat bahwa catatan itu bisa menjadi sesuatu keyakinan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: