Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Kenyataan (kanyatan, kasunyatan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Kenyataan adalah kejadian yang ada sekarang ini.  Kejadian yang sudah lewat adalah kenyataan ketika kejadian itu berlangsung, dan sekarang sudah menjadi pengalaman (cathetan = catatan).  Kejadian yang akan terjadi kemudian adalah imajinasi (anggitan).  Bahkan lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kenyataan adalah begini, disini dan kini.   Sebab jika bukan kini, maka itu masa lalu (pengalaman) atau masa depan (imajinasi), jika bukan begini dan disini, itu merupakan cerita, yang katanya (jarene).

Ketika memberi kuliah manajemen produksi kepada mahasiswa, saya tunjukkan video yang menggambarkan kegiatan yang ada di pabrik genting yang modern, itu adalah “gambaran tentang pabrik genting” dan bukan “pabrik genting”.  Yang sedang saya tunjukkan adalah gambaran atas kenyataan, bukan kenyataan.   Itu berbeda ketika saya memberi kuliah aplikasi komputer di laboratorium komputer, kemudian saya tunjukkan kepada mahasiswa, ini CPU (central processing unit), ini monitor, ini keyboard, ini program Windows XP, ini program Microsoft Office 2003, saya sedang menunjukkan kenyataan, bukan gambaran atas kenyataan.
Tetapi, sebagian orang mencampuradukkan antara kenyataan dan gambaran atas kenyataan ini. (bahkan yang lebih ‘parah’ adalah mencampuradukkan antara pengalaman, kenyataan, gambaran kenyataan serta imajinasi).    Pencampuradukkan kenyataan dan gambaran kenyataan ini telah terjadi sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar).  Anak kelas 1 SD diajari membaca dan menulis dengan mengeja tulisan “ini budi” dibawah gambar seorang anak laki-laki.  Anak-anak SD sedang ‘diindoktrinasi’ untuk percaya bahwa gambar itu adalah “budi”. Bukankah sebenarnya tulisan itu seharusnya berbunyi “ini gambar budi”  — inipun jika anak laki-laki yang digambar itu memang bernama budi.  Sebab jika ragu-ragu, bisa berbunyi “mungkin ini gambar budi” (atau “ini mungkin gambar budi”).

Di rumah pun seringkali anak-anak kecil diberi pelajaran yang mencampuradukkan kenyataan dan gambaran kenyataan, bahkan mengacaukan kenyataan dengan imajinasi. Contohnya, ‘jangan main diluar malam hari, gelap, nanti ada hantu’, akibatnya terekam dalam memori anak kecil kalau malam = gelap = hantu, akibat selanjutnya anak kecil itu (bahkan hingga dewasa)  jadi takut gelap.  Orang takut hantu, juga karena ‘didikan’…..hi…..ngeri ada hantu.  Hantu menjadi menakutkan karena ada cerita-cerita mengenai hantu yang mencelakai manusia (cerita-cerita ini bukanlah kenyataan, tetapi hanya gambaran kenyataan, itupun kalau benar-benar terjadi, kalau tidak benar-benar terjadi, hantu yang menakutkan hanyalah imajinasi)
Apakah kenyataannya hantu itu menakutkan?  Belum tentu, ada juga hantu-hantu yang lucu, menggelikan.  Ada juga hantu-hantu cantik yang sangat mengoda.  Juga mengapa kalau ketemu hantu menjadi takut?  Bukankah sebenarnya perlu bersyukur, bergembira bisa ketemu hantu?

Bukankah itu pengalaman yang exciting, luar biasa, bisa ketemu mahluk dari dimensi lain?  Kenapa takut?   Jadi, kenyataannya ada hantu yang tidak menakutkan.
Hantu menjadi menakutkan karena ada catatan dalam pikiran kita bahwa hantu itu menakutkan.  Baik, saya lanjutkan ke topik ‘pengalaman (cathetan)’

One Response to “Kenyataan (kanyatan, kasunyatan)”

  1. Deviana said

    Bs minta tolong ga minta daftar buku referensi artikel ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: