Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Keinginan (karep)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Hidup manusia sehari-hari ternyata lebih banyak dikendalikan oleh keinginan (karep). Bahkan begitu besarnya keinginan seseorang untuk mencapai sesuatu, kadang-kala seseorang melanggar norma-norma yang berlaku.  Besarnya keinginan mendorong manusia melakukan apa saja yang dianggap (diimajinasikan) dapat menjadi jalan untuk mencapai keinginan tersebut.  Ya…., keinginan telah menjadi motor penggerak bagi kehidupan manusia.

Tetapi, dorongan keinginan  ini juga yang sebenarnya telah membuat manusia mengalami sedih dan kecewa.  Sedih dan kecewa datang ketika keinginannya tidak tercapai. Sebenarnya tidak ada keadaan yang menyedihkan atau mengecewakan.  Keadaan adalah netral.  Rasa senang, puas, sedih dan kecewa adalah sikap ketika menghadapi keadaan.

Dalam jargon kawruh jiwa, keadaan adalah “lelakon” (kejadian) dan sikap kita adalah “raos” (rasa).  Kejadian dan rasa adalah dua hal yang berbeda, tetapi banyak orang yang mencampuradukkan keduanya, yang akibatnya menjadi menilai, ini kejadian menyenangkan, itu kejadian menyedihkan.  Sekali lagi, kejadian adalah netral.  Rasa senang atau sedih adalah sikap terhadap keadaan, yang didasari oleh keinginan.  Jika
keinginan tercapai, timbul rasa senang, jika keinginan tidak tercapai, timbul rasa sedih dan kecewa.

Contohnya, ketika orang yang dikasihi meninggal, biasanya seseorang menangis karena kesedihannya.  Kesedihan karena kematian orang yang dikasihi?  Bukan…. sebenarnya adalah kesedihan karena keinginannya tidak tercapai.  Orang ini ingin kekasihnya tidak mati, orang ini ingin kekasihnya tetap hidup, maka ketika kekasihnya mati, dia bersedih, dia menangis. Bukan kematian kekasihnya itu yang menyebabkan dia menangis.  Kenyataannya, atas kematian kekasih orang tadi, tetangganya tidak menangis, tidak bersedih, karena tetangganya tidak memiliki keinginan apapun atas kekasih orang tadi.

Atau contoh yang lain, ketika seorang penjahat mati ditembak polisi, anak dan istri penjahat tadi (kemungkinan besar) akan merasa bersedih, tetapi orang-orang yang pernah “dijahati” akan merasa senang.  Jadi, atas kejadian yang sama (yaitu matinya seorang penjahat karena ditembak polisi), ada yang sedih, ada yang senang, ada yang menangis, ada yang tertawa riang.
Kejadian adalah netral, sedih, senang, atau biasa saja adalah sikap terhadap kejadian yang ada, yang dilandasi oleh keinginan yang ada dalam diri masing-masing.

Lalu, bagaimana agar orang bisa “tatag” (tegar) menghadapi kejadian/keadaan apapun?  Salah satu caranya adalah mengendalikan keinginan. Melihat keinginan, memahami keinginan, menyadari adanya keinginan, dan menjaga agar keinginan itu tidak menguasai pikiran, tetapi sebaliknya pikiran-lah yang mengendalikan keinginan.  Menjadi orang yang tidak dibelenggu oleh keinginan. Memang sulit, tetapi dengan ‘latihan’ sedikit demi sedikit, seseorang dapat menjadi “manungsa tanpa ciri” (madheg mandireng pribadi), seorang manusia yang tidak dibelenggu oleh keinginan (dan imajinasi dan pengalaman — akan saya uraikan dibagian berikutnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: