Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Imajinasi (anggitan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Hidup dengan imajinasi adalah hidup yang “tidak hidup” atau bahkan “lebih hidup”, karena tidak berpijak pada kenyataan yang sebenarnya.

Imajinasi (anggitan) seringkali dapat membuat menusia dapat melakukan hal-hal yang besar, hal-hal yang luar biasa dan istimewa. Imajinasi-lah yang menuntun langkah-langkah hidup seseorang. Seorang pemuda melangkah pergi apel ke rumah si gadis pujaan, karena berimajinasi besok akan meminang si gadis dan dapat menikahinya, dan melahirkan anak-anaknya dan seterusnya. Seorang lulusan SMA masuk kuliah di perguruan tinggi karena berimajinasi besok setelah lulus kuliah dapat memperoleh pekerjaan yang baik. Saya menulis di blog ini karena berimajinasi bahwa blog ini dibaca dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Imajinasi mirip dengan keinginan, bahkan kadang imajinasi sama dengan keinginan. Tetapi saya membedakan antara keinginan dan imajinasi, pada subyek kepentingannya. Keinginan lebih menunjuk pada kepentingan diri sendiri, sedangkan imajinasi tidak selalu terpumpun (terfokus) pada kepentingan diri sendiri. Misalnya, saya ingin makan dan perut saya menjadi kenyang, saya berimajinasi nasi yang akan saya makan berwarna kuning. Subyek keinginan makan, adalah perut saya sendiri, subyek imajinasi saya adalah nasi.

Imajinasi yang menuntun pada hidup yang lebih baik memang OK, tetapi masalahnya adalah jika kehidupan kita menjadi tidak nyaman akibat imajinasi kita. Misalnya, ketika mengalami kegagalan dalam suatu bidang, biasanya orang akan merasa malu pada teman-temannya. Rasa malu itu sebenarnya hasil imajinasi bahwa teman-teman akan mempermalukan kegagalannya. Apakah kenyataannya teman-teman mempermalukan dia, seringkali tidak, dan justru teman-temannya banyak yang memberikan perhatian dan simpati. Tetapi simpati dan perhatian yang tulus dari teman-teman pun diimajinasikan sebagai suatu tindakan penghinaan, malah makin membuat rasa malu bertambah-tambah. Benarkah teman-temannya mempermalukan/menghina? Belum tentu. Imajinasilah yang memberi nilai bahwa teman-temannya mempermalukan dan menghina, dan imajinasi itu yang menimbulkan rasa malu.

Mengapa seseorang yang ditinggal pergi kekasihnya menjadi sedih? Disamping karena keinginannya untuk tetap bersama kekasihnya tidak tercapai, sebenarnya imanjinasi juga berperan dalam menambah kesedihan. Imajinasi bahwa besok akan kesulitan mencari pengganti kekasihnya yang pergi, imajinasi bahwa besok akan kesepian. Apakah besok akan benar-benar kesepian? Belum tentu.

Ada orang tua yang marah-marah ketika anaknya bermain air, kemarahan itu adalah akibat keinginan orang tua itu tidak tercapai (inginnya anaknya tidak bermain air), ditambah imajinasi bahwa nanti kalau anaknya main air, bisa masuk angin. Benarkah anaknya masuk angin? Belum tentu.

Seperti halnya terhadap keinginan, perlu berlatih agar pikiran tidak dikendalikan oleh imajinasi, tetapi pikiran yang kompromi dengan imajinasi. Niscaya hidup akan menjadi benar-benar hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: