Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Archive for September, 2007

Uran-uran begja (senandung bahagia)

Posted by Wijayanto on September 29, 2007

Senandung bahagia atau “uran-uran begja” adalah bait-bait lagu (MACAPAT) yang ditulis oleh KAS, sebagai sarana untuk memperkenalkan ajaran KJ.

Lagu-lagu dalam uran-uran begja, biasanya sebagian dilantunkan dalam pertemuan pelajar KJ, dan secara lengkap dinyanyikan dalam jonggringan tahunan yang diadakan di Kroya, Bringin, Kab. Semarang — 10 km dari Salatiga

Lagu-lagu ini telah dibuat VCD-nya oleh Ki Mul (dari Klaten), nantiĀ  kapan-kapan potongan VCD itu akan saya upload ke YouTube, dan dapat diakses wia website ini.

admin

Advertisements

Posted in Senandung Bahagia | Leave a Comment »

Senang / bahagia dan susah / celaka

Posted by Wijayanto on September 28, 2007

Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus menerus bahagia, bukanlah hidup yang baik ( George Loewenstein) — itulah tulisan awal dari Ninok Leksono yang dimuat di harian Kompas, 16 Mei 2007 yang berjudul “Uang dan Ilmu Bahagia”

Ya.. Seperti halnya “falsafah” dalam Kawruh Jiwa (KJ) yaitu “Langgeng Bungah Susah”, para pelajar KJ, menyadari sepenuhnya adanya rasa senang dan susah yang silih berganti.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Main Ketoprak

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

kas.jpgKAS sering bermain ketoprak (salah satu nama kesenian dari Jawa — berupa sandiwara/drama, yang biasanya mengisahkan kehidupan sebuah kerajaan). Jika main ketoprak, KAS selalu mendapat peran menjadi raja. (ya pantas, karena beliau memang anak raja)

Demikian diceritakan oleh Ki Sadi, (sekarang tinggal di Salatiga, dulu semasa kecil tinggal di Kroyo, Bringin, — pada masa hidup KAS), dalam acara jonggringan (pertemuan) para Pelajar Kawruh Jiwa di kampus Muria – Salatiga (tempat belajar Kawruh Jiwa dibeberapa tempat dinamakan “kampus”)

Posted in Tentang KAS | Leave a Comment »

Menanam Pisang

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Di kebunnya yang (dahulu) seluas sekitar 12 hektar, Ki Ageng Suryamentaram (KAS) terdapat berbagai tanaman, antara lain yang banyak adalah tanaman pisang, ketela, jagung, dan kapuk (randu). Kebun KAS digarap juga oleh beberapa orang yang tinggal di sekitar rumah KAS. Oleh KAS, beberapa orang memang diijinkan untuk mengerjakan kebunnya, boleh mengambil hasil kebun, tetapi dengan catatan, tidak boleh mengambil buah pisang. Pisang adalah “milik” KAS, diceritakan oleh Ki Sadi, (sekarang tinggal di Salatiga, dulu semasa kecil tinggal di Kroyo, Bringin, — pada masa hidup KAS), kegiatan KAS di sore hari antara lain membersihkan daun-daun pisang yang kering (jawa=klaras)

Posted in Tentang KAS | 4 Comments »

Bercelana pendek dan tidak mengenakan baju

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Diceritakan oleh Ki Sadi, yang mengalami masa ketika Ki Ageng Suryamentaram (KAS) masih hidup di Kroyo, Bringin, Salatiga (sebenarnya tepatnya Bringin termasuk Kabupaten Semarang — tetapi lebih dikenal dekat dengan Salatiga), jika sedang berjalan-jalan KAS tidak mengenakan baju. Pakaian “kebesarannya” adalah celana pendek, bersabuk lebar, dan berselempang sarung, selalu membawa “slepen” (tempat tembakau dan kertas rokok)

Celana pendek KAS, memang menjadi ciri khas KAS, seperti dalam foto bersama Presiden RI pertama Ir. Soekarno, terlihat KAS juga bercelana pendek.

bersama Ir. Soekarno

Posted in Tentang KAS | 1 Comment »

Mulur mungkret (mengendor dan mengerut)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Konsep mulur mungkret (mengendor dan mengerut) disampaikan Ki Ageng Suryomentaram (KAS) dalam upaya untuk memahami keinginan manusia. Setiap manusia (normal) pasti memiliki keinginan, keinginan yang selalu bertambah-tambah, sesuai dengan ‘nature’ manusia yang tidak pernah puas. Sebaliknya jika keinginannya tidak tercapai, seringkali manusia menurunkan target keinginannya.

Contohnya, orang yang ingin memiliki kendaraan. Semula ingin memiliki sepeda motor, jika sudah tercapai ingin memiliki mobil sederhana, sudah tercapai, ingin memiliki mobil yang lebih bagus, ingin memiliki lebih dari satu mobil, dan seterusnya. Ini adalah keinginan yang ‘mulur‘ (mengendor)

Read the rest of this entry »

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

AKU tukang nyawang

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Aku tukang nyawang (ATN) mungkin lebih tepat disebut dalam bahasa Indonesia sebagai Aku pelihat, atau Aku pengamat. Dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram (KAS), ATN ini ada dalam hubungannya dengan Aku kramadangsa (AK). Dalam pemahaman di luar Kawruh Jiwa, mungkin ATN ini identik dengan roh, sedangkan AK identik dengan tubuh + jiwa. Sedikit berbeda dalam beberapa konsep tentang manusia adalah ‘posisi’ hati nurani. Pada berbagai pendapat, hati nurani sering dianggap sebagai suara ‘Tuhan’– sehingga lebih dekat dengan ‘roh’. Sedangkan dalam ajaran KAS, hati nurani adalah bagian dari AK.

Mencoba memahami ATN dan AK
Menurut cerita Ki Harsono, saat dia masih bersekolah, hidup bersama dengan KAS, suatu kali ketika akan berangkat sekolah, dipanggil oleh KAS, dan diminta untuk memegang ‘aku’. Kira-kira berikut ini dialog antara KAS dan Ki Harsono

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa, Tentang "aku" | 13 Comments »

Tegar (tatag)

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Salah satu ‘kelebihan’ yang dimiliki oleh para Pelajar Kawruh Jiwa (KJ), adalah ketegarannya dalam menghadapi cobaan hidup. Seorang pelajar KJ, yang isterinya terbaring dirumah sakit karena menderita kanker, dapat menunggui isterinya dengan wajah yang ‘biasa’ tanpa kesedihan yang berarti, bahkan sambil menunggui isteri di rumah sakit, masih sempat mengerjakan tugas-tugas kantornya.

Seorang teman saya pernah bercerita, ada seorang ibu yang anaknya (masih SMA) meninggal dunia karena sepeda motor yang dikendarai menabrak tiang listrik, tidak menangis dalam acara pemakaman anaknya, dan hanya berkata pada orang-orang yang keheranan, ” Ya.., kalau saya ya inginnya anakku tidak mati, tapi dia sendiri maunya begituā€¦.”

Seorang pelajar KJ di Klaten, Jawa Tengah, ketika sadar rumahnya roboh karena gempa (Mei 2005), hanya bergumam, “Ya nggak apa-apa, besok bikin rumah lagi”. (padahal orang ini belum tahu akan mendapat uang dari mana untuk membangun rumahnya kembali)

Salah satu falsafah yang dipegang para pelajar KJ adalah mensyukuri apapun yang dialami. Prinsipnya adalah aku mau kini, disini, begini, artinya menerima keadaan apapun saat ini. Bukan kemarin atau yang sudah lewat, karena yang sudah lewat adalah ‘cathetan’ (pengalaman) dan bukan pula yang akan datang, sebab yang akan datang adalah ‘anggitan‘ (angan-angan/imajinasi). Prinsip kekinian ini membuat pelajar KJ menjadi tegar dalam menghadapi kejadian apapun yang dialaminya.

Ditambah lagi pemahaman bahwa kejadian adalah netral, dan yang menjadi masalah adalah tanggapan/sikap terhadap kejadian yang dialami oleh seseorang. Hal inilah antara lain yang menyebabkan para pelajar KJ memiliki ‘kere waja‘ (tirai baja), yang mampu ‘melindungi’ diri dari pengaruh-pengaruh yang dapat merusak diri, termasuk (khususnya) berbagai kekuatiran karena kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Posted in Hidup sehari-hari, Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Jonggringan khusus – tahunan

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Setiap bulan Oktober minggu ke dua (hari Minggu) diadakan pertemuan (jonggringan) di lokasi bekas rumah KAS di Kroya, Bringin, Salatiga. Dalam jonggringan khusus ini antara lain akan dinyanyikan semua bait dari ‘uran-uran begja‘ (senandung bahagia), yang diciptakan oleh KAS.
Tidak ada panitia khusus yang mengurusi kegiatan jonggringan ini, karena itu semua yang hadir wajib untuk ‘mengurus diri sendiri’, (misalnya untuk hal makan-minum).

Pada tahun 2007 ini, jonggringan khusus, akan diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 7 Oktober 2007. Seperti tahun 2006 yang lalu, jonggringan tahun ini bertepatan dengan bulan puasa, dan seperti ‘norma’ yang berlaku di Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa (KPKJ) yang ‘tanpa dhemen sengit, tanpa pakon tanpa penging‘ (tanpa memuja dan tanpa membenci, tanpa menyuruh dan tanpa melarang), bagi yang berpuasa, silakan berpuasa, bagi yang tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa.

Posted in Junggringan | Leave a Comment »

Jonggringan di Kampus Muria – Salatiga

Posted by Wijayanto on September 23, 2007

Bertempat di Rumah Bpk. Tri Kadarisman, Jl. Muria no. 167 (telp. 0298-314547), pada hari Minggu, di minggu ke-3 setiap bulan, dimulai pukul 14.00 – selesai, diselenggarakan jonggringan (pertemuan) Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa – KPKJ, Salatiga dan sekitarnya. Biasanya dari Klaten juga datang ke Salatiga.

Jonggringan di Kampus Muria, –tempat jonggringan biasanya disebut “kampus” –diselenggarakan mengikuti topik-topik yang sudah dibuat oleh para pambahureksa (pengurus). Saat ini yang menjadi pambahureksa KPKJ Salatiga adalah Ki Tri Kadarsila dan Ki RM Ismunandar C. Suryosedono. Acara dalam jonggringan, biasanya diawali dengan berbagi pengalaman hidup sehari-hari dari para peserta yang mau bercerita tentang ‘lelakon’ dan ‘rasa’ (kejadian dan rasa-atas-kejadian), yang terjadi sebulan terakhir. Dilanjutkan dengan ‘kandha-takon‘ (tanya jawab) dengan nara sumber berkaitan dengan topik materi yang dibahas.

Biasanya pada pukul 15.00, salah seorang akan menyanyikan beberapa bait ‘uran-uran begja‘ (senandung bahagia), kemudian dilanjutkan kembali dengan ‘kandha-takon‘, diantara peserta pertemuan.

Topik-topik yang dibahas dalam jonggringan di Kampus Muria antara lain:

  • 15 April 2007: Kesalahan fatal dalam mengejar impian
  • 20 Mei 2007: Memaknai kerja: kerja keras sampai kapan?
  • 17 Juni 2007: Menggerakkan dan mencerdaskan
  • 15 Juli 2007: Berani hidup dan memposisikan diri
  • 19 Agustus 2007: Menggali dan menjumpai diri
  • 16 September 2007: Melipatgandakan jaringan
  • 21 Oktober 2007: Menciptakan kesempatan bersyukur setiap saat

Siapa saja boleh hadir dalam jonggringan di Kampus Muria, pria-wanita, tua-muda, berpendidikan tinggi atau tidak berpendidikan, yang penting harus seorang ‘manusia’.

Posted in Junggringan | 2 Comments »