“RITUAL” Kawruh Jiwa seperti apa ya????
Posted by Wijayanto on April 21, 2008
Pada tanggal 18 Maret 2008, oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah, (+ Kabupaten Semarang) dilakukan pen-dokumentasi-an acara “ritual” Kawruh Jiwa. Sebenarnya ini salah kaprah, karena sebenarnya Kawruh Jiwa tidak mengenal RITUAL. Sudah sering ditegaskan bahwa Kawruh Jiwa BUKAN agama, BUKAN kepercayaan, BUKAN keyakinan. Kawruh Jiwa hanya filsafat tentang hidup, dipelajari dengan KANDHA-TAKON (tanya-jawab) yang pertemuannya sering disebut dengan JUNGGRINGAN.
Dalam junggringan, ya cuma ngomong-omong, sharing pengalaman, tanya-jawab, hingga orang-orang yang hadir menjadi “weruh” (mengerti) apa yang dibicarakan. Jadi, sebenarnya ketika diadakan “ritual” seperti yang dilakukan di Gombang, Segiri, Kabupaten Semarang – Jawa Tengah, tanggal 18 Maret 2008, itu sudah SALAH KEDADEN.
Tapi mau bagaimana lagi…, Dinas Pariwisata (pemerintah) menganggap Kawruh Jiwa sebagai salah satu “aliran kepercayaan”, ya mau-tidak-mau, nuruti karep-e pemerintah, diadakanlah “ritual” itu. Lantas ritualnya bagaimana?
Ya tidak bagaimana-bagaimana…, cuma kumpul, mendengarkan Ki Wagiman nembang “uran-uran begja”. Setelah selesai, ada orang dari Dinas yang bertanya, “Pak, terus ritualnya mana?” Di jawab, “Ya itu ritualnya” Oh… begitu.
Melalui website ini kami sampaikan bahwa: belajar Kawruh Jiwa itu TIDAK PAKAI RITUAL tertentu. Ya biar saja, kalau pemerintah MENGANGGAP, para pelajar Kawruh Jiwa memiliki ritual tertentu. Itu khan “anggapan” mereka yang tidak tahu. Sekali lagi, kami sampaikan melalui website ini, belajar Kawruh Jiwa tidak perlu pakai ritual apapun. Jangan anggap Kawruh Jiwa itu kepercayaan tertentu.
Orang-orang yang belajar Kawruh Jiwa masing-masing memiliki agama sendiri-sendiri. Kawruh Jiwa untuk semua orang… (saya beragama Kristen, teman-teman saya banyak yang beragama Islam, kami sama-sama belajar Kawruh Jiwa, tidak ada benturan dengan agama kami masing-masing — ya sama jika kita belajar FISIKA, KIMIA, BIOLOGI, MATEMATIKA, FILSAFAT, apa harus menggunakan agama kita? Makanya… don’t judge a book by its cover , jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.
Jangan menilai bagaimana Kawruh Jiwa, jika hanya tahu “kulitnya” saja, kalau mau tahu Kawruh Jiwa itu sebenarnya apa, bagaimana, ya ikutlah JUNGGRINGAN, baca tulisan-tulisan Ki Ageng Suryamentaram, kalau perlu, kalau sudah agak “dalam”, baca BUKU LANGGAR — sayang Buku Langgar ini berbahasa Jawa (agak) kuna, jadi agak sulit dipahami — saya mencoba menterjemahkan Buku Langgar ke dalam Bahasa Indonesia, sampai saat ini belum terlaksana, karena sulit sekali memilih kata-kata dalam bahasa Indonesia yang “pas” dengan maksud di Buku Langgar tersebut, ditambah, saya tidak memahami beberapa kata “asing” di buku itu.
Lha terus, berarti Dinas Pariwisata tertipu? Ha ha ha…. ya biar saja, lha wong itu mereka yang minta diadakan “ritual” kok…, itu kalau orang tidak tahu tapi MERASA tahu, Kawruh Jiwa DIANGGAP memiliki ritual tertentu.
Jadi saudara-saudara, kalau besok Anda menyaksikan film dokumentasi dari “Ritual Kawruh Jiwa”, silakan “nikmati” film itu sambil mengingat tulisan ini, anggap saja sedang nonton film humor yang tidak lucu…
Ini salah satu foto-nya, itupun tulisan di spanduk salah lho….

sitijenang said
he he he… lha gimana kok kawruh jiwa malah dijadikan objek wisata? makanya mereka perlu ada tontonan “ritual” itu wong mau jualan ke turis je..
xendro said
haaaa sing abar ae yo..ancen begitu itu orang gak tahu.:)
sunarno said
pancen repot ngadepi orang yang ga paham.akhirnya lg2 qt yng harus memahami mereka.(PKJ Ngawi)
dedy muller said
Saya berharap ke depannya Kawruh Jiwa lebih keluar dari Jawanya, agar orang Bugis seperti saya dan orang2 asing non jawa lainnya bisa mendapatkan hikmat dari kawruh jiwa ini. Salut buat pengurus dan peminat Kawruh Jiwa ini, yg tetap bisa eksis walau udah bias interpretasi dari pemerintah yg sangat sok tahu tapi bodoh, he….he….he. Salam
Kiprijo said
Saya setuju dengan Dedy Muller, ritual pernikahan KJ memang tidaak perlu, tetapi perlu ditekankan bahwa ritualnya menurut adat masing masiung. Ritual adat merupakan keharusan untuk mendukung ke absahan ritual KJ
Kiprijo said
Sungguh kemajuan luar biasa bahwa KJ boleh mengesahkan perkawinan. Walaupuin sederhana, kiranya perlu ada ketentuan ketentuan pkok yang harus dipenuhi. Salah satu ketentuan pokok yang saya usulkan adalah : Perkawinan KJ itu MONOGAMI. Monogami itu pelaksanaaan, implementasi dari sa-nem. Yang lebih utama adalah tidak ada orang yang poligami itu bisa “beja”. Nek bungah bisa , nek beja ora bisa. Dan lagi hidup menurut KJ menuruti konsep ” Ora ana keepenak liyane ngepenake liyan ” Tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang poligami. Bisakah hal ini didiskusikan lebih lanjut ?