Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Archive for September, 2007

Tahu dan Merasa Tahu (weruh lan ngira weruh)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Ketika seseorang memiliki keyakinan tertentu (yang kemudian diungkapkannya dalam bentuk pendapat, sikap atau tindakan), sebenarnya ada 2 kemungkinan yang terjadi.  Pertama orang itu tahu tentang keyakinannya tersebut.  Kedua, orang itu merasa tahu tentang keyakinannya tersebut.

Contoh: orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada,–pertama– karena tahu bahwa Tuhan itu memang ada (pernah “bertemu” dengan Tuhan); — kedua– merasa tahu bahwa Tuhan itu ada. Orang percaya bahwa Nabi “A” itu akan menuntun kepada surga, karena tahu bahwa Nabi “A” itu akan menuntun ke surga atau karena ‘merasa tahu’ bahwa Nabi “A” itu akan menuntun ke surga.  Bahkan ketika orang percaya bahwa surga dan neraka itu ada, pun ada 2 kemungkinan: tahu atau merasa tahu bahwa surga dan neraka itu ada.

Orang tahu karena pengalamannya, dan ada 3 kemungkinan sebab orang merasa tahu.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | 1 Comment »

Pengalaman (catatan = cathetan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Pengalaman (cathetan = catatan) adalah apa saja yang terekam dalam pikiran dan hati manusia.  Pengalaman ini menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana manusia bertindak atau bersikap menghadapi kenyataan yang ada.

Misalnya kenyataannya adalah gelap, ada orang yang takut (karena berimajinasi kalau gelap itu = hantu) ada yang biasa saja menghadapi  suasana gelap.  Penampakan hantu (seandainya benar-benar ada penampakan, bukan imajinasi), dihadapi oleh sebagian orang dengan ketakutan, sebagian orang dengan biasa-biasa saja.  Kematian seseorang, dihadapi sebagian orang dengan dukacita, sebagian dengan biasa-biasa saja.  Mengapa bisa demikian?
Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Kenyataan (kanyatan, kasunyatan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Kenyataan adalah kejadian yang ada sekarang ini.  Kejadian yang sudah lewat adalah kenyataan ketika kejadian itu berlangsung, dan sekarang sudah menjadi pengalaman (cathetan = catatan).  Kejadian yang akan terjadi kemudian adalah imajinasi (anggitan).  Bahkan lebih ekstrim dapat dikatakan bahwa kenyataan adalah begini, disini dan kini.   Sebab jika bukan kini, maka itu masa lalu (pengalaman) atau masa depan (imajinasi), jika bukan begini dan disini, itu merupakan cerita, yang katanya (jarene).

Ketika memberi kuliah manajemen produksi kepada mahasiswa, saya tunjukkan video yang menggambarkan kegiatan yang ada di pabrik genting yang modern, itu adalah “gambaran tentang pabrik genting” dan bukan “pabrik genting”.  Yang sedang saya tunjukkan adalah gambaran atas kenyataan, bukan kenyataan.   Itu berbeda ketika saya memberi kuliah aplikasi komputer di laboratorium komputer, kemudian saya tunjukkan kepada mahasiswa, ini CPU (central processing unit), ini monitor, ini keyboard, ini program Windows XP, ini program Microsoft Office 2003, saya sedang menunjukkan kenyataan, bukan gambaran atas kenyataan.
Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Imajinasi (anggitan)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Hidup dengan imajinasi adalah hidup yang “tidak hidup” atau bahkan “lebih hidup”, karena tidak berpijak pada kenyataan yang sebenarnya.

Imajinasi (anggitan) seringkali dapat membuat menusia dapat melakukan hal-hal yang besar, hal-hal yang luar biasa dan istimewa. Imajinasi-lah yang menuntun langkah-langkah hidup seseorang. Seorang pemuda melangkah pergi apel ke rumah si gadis pujaan, karena berimajinasi besok akan meminang si gadis dan dapat menikahinya, dan melahirkan anak-anaknya dan seterusnya. Seorang lulusan SMA masuk kuliah di perguruan tinggi karena berimajinasi besok setelah lulus kuliah dapat memperoleh pekerjaan yang baik. Saya menulis di blog ini karena berimajinasi bahwa blog ini dibaca dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Keinginan (karep)

Posted by Wijayanto on September 22, 2007

Hidup manusia sehari-hari ternyata lebih banyak dikendalikan oleh keinginan (karep). Bahkan begitu besarnya keinginan seseorang untuk mencapai sesuatu, kadang-kala seseorang melanggar norma-norma yang berlaku.  Besarnya keinginan mendorong manusia melakukan apa saja yang dianggap (diimajinasikan) dapat menjadi jalan untuk mencapai keinginan tersebut.  Ya…., keinginan telah menjadi motor penggerak bagi kehidupan manusia.

Tetapi, dorongan keinginan  ini juga yang sebenarnya telah membuat manusia mengalami sedih dan kecewa.  Sedih dan kecewa datang ketika keinginannya tidak tercapai. Sebenarnya tidak ada keadaan yang menyedihkan atau mengecewakan.  Keadaan adalah netral.  Rasa senang, puas, sedih dan kecewa adalah sikap ketika menghadapi keadaan.
Read the rest of this entry »

Posted in Tafsir Kawruh Jiwa | Leave a Comment »

Kawruh Jiwa dan Perspektif Aku

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ melihat konstitusi manusia sebagai Badan dan Jiwa. Jiwa dianggap sebagai psike, urip dan aku. Aku berfungsi sebagai ‘Aku Kramadangsa’ (AK) dan ‘Aku Tukangnyawang’ (AT). AT indentik dengan ‘Roh’/’Roh Individual’ dalam terminologi van Peursen/Rama Khresna, tidak berpengaruh terhadap AK,walau AT menanggung pengadilan terakhir (kalau ada). AK-lah berhubungan dengan ‘karep’ mengarah kepada pangkat/kekayaan/pengaruh. AK-lah hakekat manusia (isi karep) mengada bersama tubuh sbg ‘individu’. Tubuh adalah obyek AK. Tubuh hidup ketika ada gerak dan karep. ‘Mati’ berarti tak ada gerak dan berkeinginan/berkebutuhan mandi/makan/dsb. AK+AT bersemayam di hati (manah sebagai simbol ‘rasa’). AK dan tubuh menghasilkan tindak,berimplikasi pada ‘lelakon’ dicatat AT. Tindak akan adekwat bila diukur dengan rasa (dengan ukuran 6 SA). Lalu TUHAN (Pemberi Hidup) dalam konteks Imago Dei dimana? YA ADA di kita (manah?) dan di luar-kita. KJ sebenarnya bagian dari faham filsafat Parenealisme. Berpribadikah AKU ? Silakan tebak.

diedit dari Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=8&mforum=salatiga

Posted in Tentang "aku" | 7 Comments »

Kawruh Jiwa sebagai Psikologi Jawa

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ oleh Darmanto Yatman (2000) dianggap sebagai Psikologi Jawa atau secara khusus, karena aspek bahasan didalamnya, menyangkut ‘aku’, ‘rasa’ dan ‘mawas diri’ mengusulkan nama “Psikologi Kramadangsa”. Dalam bukunya ‘Psikologi Jawa’ ia membandingkan pemikiran Ki Ageng Suryamentaram (KAS) dng Maslow dari aspek-aspek: tujuan, obyek material & formal, ruang lingkup, metodologi, konsep-konsep pokok. Yatman juga mencoba memahami pemikiran KAS, terutama tentang ‘aku’ , dengan pemikirannya Sunarto (PANGESTU) tentang ‘Candra Jiwa’.
Yatman memulai menilai pokok pikiran KAS dengan hipotesis ‘Dengan meneliti rasa sendiri, kita akan bebas dari rasa aku dan menghayati rasa manusia sejati’ (p.7 yang dijabarkan dalam hipotesa kerja “Dengan meneliti: (a) rasa tanggapan senang/benci individu terbebas dari rasa senang/benci;(b) rasa-aku dan rasa-sama individu memilah bukan-aku dan bukan-kamu; (c) catatan rasa-bahagia/susahnya sendiri individu terbebas dari rasa-aku nya; (d) dengan a,b,c individu akan menghayati rasa-obyektif manusia tanpa ciri yang tak lain menjadi awas terhadap diri sendiri.
Kesimpulannnya: (a) KJ wejangan KAS bisa disebut ‘pangawikan pribadi’ merupakan gagasan eksplisit dlm tradisi kepustakaan Jawa; (b) Psikologi Indonesia, dalam konteks trasubyektif, historikal, dan nilai-nilai sebaiknya juga menggali psikologi yang mengakar pada budaya masyarakat sendiri; (c) KJ sebagai konsepsi teoritis menyangkut ‘aku’, ‘rasa’ dan ‘mawasdiri’ memenuhi syarat formal & material untuk studi psikologi sebagai Ilmu Jiwa Kramadangsa sebagai etnopsikologi Indonesia.
Yatman dalam buku tersebut secara khusus mentelaah ego dalam Psikologi Modern dengan membandingkan pandangan KAS, Freud, Berne, Haris, Jung, Hardjo Prakoso, Maslow dan Rogers.

Yang terang tak usah malu mempelajari KJ. Tak usah minder membandingkan KJ dengan teori psikologi asal negeri jiran. Mari bergabung mempelajari KJ dalam Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa Salatiga!

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://diskusi.salatiga.biz

Posted in Umum | 1 Comment »

Kawruh Jiwa sebagai Logikopsikologi

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ berasumsi perilaku seseorang selalu logis dan bertujuan. Ada motif dan (ber)kehendak didalamnya. Manusia bermakna karep. Sehingga dengan demikian mereka akan selalu siap/memperhitungkan (sembarang) risiko (material dan psikologis) yang terjadi. Itulah nalar dampak psikologi perbuatan.
Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya, bertindak dulu berfikir kemudian. Mereka menjadi teledor, kurang melakukan analisis dampak.
KJ menganjurkan Subyek melakukan mawas diri nonton arah jalannya kemauan (Aku kramadangsa) dan mengkalkulasi dampaknya, terutama aspek psikologis; apalagi ketika menghadapi masalah. Dengan menggunakan formula “saya mau apapun yng terjadi (bentuk dan wujudnya) saat ini, di sini” plus 6 SA. Subyek menjadi obyektif, tidak lari, tatag dan teges men nanggung resiko. Tidak terjadi pertentangan batin kerna tahu yang pasti terjadi hanyalah susah atau bungah. Tidak mungkin terjadi serentak keduanya. Bukti sejarah Subyek selalu kuat menanggungnya.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=13&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

Kawruh Jiwa dan Ki Ageng Surya Mentaram

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Ki Ageng Suryamentaram (KAS) lahir 22 Mei 1892 adalah putera Hamengku Buawana VII. Mulai berfilsafat 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan di Yogya. Menanggalkan kepangeranannya 1921, kemudian menetap di Kroyo Bringin (9 km utara Salatiga) sebagai petani (1925) sambil menjadi Penceramah Keliling. Substansi ceramahnya, antara lain: berkenaan dengan kepenuhan-hidup dan manusia merdeka, pendidikan, matapencaharian, rumah tangga dan perkawinan.
Wejangan-wejangannya dikenal sebagai “Kawruh Begja” (KB), “Ilmu Bahagia” (IB) dengan metapora “mulur-mungkret” (menyusut-mengembang) sebagai ikon yang sangat dikenal. Setelah KAS meninggal (1962) KB/IB diperkenalkan lagi dengan nama “Kawruh Jiwa” (KJ) (1982). Sepanjang hayat KAS menulis 13 buku dan pelbagai risalah. Tulisan memuat KB/IB dan KJ serta KAS dalam konteks studi sosial politil pulau Jawa lewat aantara lain Geertz (USA,1960), Bonef (Trancis,1970), Yoshi michi (Jepang,1990). Di Fakultas Psikologi UGM, UNDIP, UMS pemikiran KAS diajarkan sebagai ‘endigenous-psycology’. Masyarakat mempelajri KJ dalam KPKJ (Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=11&mforum=salatiga

Posted in Ajaran KAS | 2 Comments »

5. Kawruh Jiwa Memerdekakan

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Ketika kita legawa menerima “realitas hidup saat ini disini begini apapun bentuknya” berarti meletakkan fondasi dan motif dasar ‘kemerdekaan hidup’. Terlebih bila memakai 6 SA sebagai parameternya. Karena kombinasi kedua prinsip tersebut adekwat mengukur kebahagiaan, kedamaian dan motivasi rela hidup berkesekarangan. Melaksanakannya konsisten sehari-hari bukan cara mudah. Hidup berkesekarangan berarti memperlakukan hari ini optimal, meletakkan lelakon diwaktu lampau sebagai sejarah penuh diwarnai kegagalan dan kekecewaan, serta lelakon di masa depan sebagai perspektif berkemungkinan menghadirkan rasa was-was. Manfaatkan waktu hari ini seoptimal dan sepositif mungkin, hari esok jelas akan menjadi sebaik hari ini.
Dengan mengetahui arah kehendak dan melaksanakan sekaligus dua prinsip tersebut di atas , berarti dengan sadar kita telah menggali Pencerahan dan Memerdekakan dari KJ, serta mengaplikasikannya.

diedit dati tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=10&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »