Senang / bahagia dan susah / celaka
Posted by Wijayanto on September 28, 2007
Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus menerus bahagia, bukanlah hidup yang baik ( George Loewenstein) — itulah tulisan awal dari Ninok Leksono yang dimuat di harian Kompas, 16 Mei 2007 yang berjudul “Uang dan Ilmu Bahagia”
Ya.. Seperti halnya “falsafah” dalam Kawruh Jiwa (KJ) yaitu “Langgeng Bungah Susah”, para pelajar KJ, menyadari sepenuhnya adanya rasa senang dan susah yang silih berganti.
Senang itu apa? Susah itu apa?
Rasa senang seringkali disamakan dengan rasa bahagia, dan rasa susah seringkali disamakan dengan rasa celaka. Penyamaan arti ini sebagai penyederhanaan boleh-boleh saja, namun jika dikaji lebih lanjut, tentunya ada beda antara senang dan bahagia, antara susah dan celaka.
Rasa senang timbul jika keinginan (karep) tercapai, dan rasa susah timbul jika keinginan tidak tercapai, itulah salah satu ajaran dari KAS, jadi senang dan susah itu tergantung dari keinginan (karep), bukan tergantung pada keadaan yang terjadi. Keadaan adalah netral, namun sikap terhadap keadaan itu yang tidak netral. Sikap terhadap keadaan itu tergantung dari keinginan.
Saya mungkin akan bersedih (susah) jika besok pagi isteri saya meninggal dunia, karena (dalam lubuk hati saya) ada keinginan agar isteri saya tidak meninggal besok pagi, tetapi apakah tetangga saya akan bersedih? Mungkin tidak, sebab tetangga saya tidak memiliki keinginan apapun terhadap istri saya, mereka tidak peduli apakah isteri saya hidup atau mati.– tidak punya keinginan istri saya hidup atau istri saya mati– Jadi keadaan isteri yang meninggal, itu dapat menimbulkan sedih, bisa juga tidak menimbulkan rasa apapun, bahkan bisa juga menimbulkan rasa senang (ya misalnya buat perempuan yang sudah lama naksir saya — seandainya ada lho……)
Saya akan merasa senang jika besok tanggal 1 saya menerima gaji, karena saya menginginkan uang itu untuk membayar beberapa kebutuhan saya. Tetapi teman saya tidak merasa senang (atau susah) apabila saya menerima gaji di tanggal 1, teman saya tidak memiliki keinginan terhadap uang gaji itu.
Sekali lagi, keadaan adalah netral, yang membuat kita senang atau susah ketika ada keadaan tertentu adalah ada atau tidak ada keinginan dalam diri kita. Sehingga, salah satu cara untuk menghindari kesusahan adalah dengan mengendalikan keinginan.
Bagaimana mengendalikan keinginan? Apakah keinginan perlu ‘ditiadakan’? Wah.. Ini agak rumit, sebab ‘mengendalikan keinginan’ juga merupakan sebuah keinginan.
Belajar sedikit-sedikit mengenai KJ, dapat menyingkap masalah keinginan, rasa senang/ bahagia, dan rasa sedih /celaka. Juga menyingkap bagaimana dapat “menangani” senang dan susah yang silih berganti.