Ilmu Bahagia

Salah satu cara menjalani hidup dengan (lebih) bahagia …

Archive for September 21st, 2007

Kawruh Jiwa dan Perspektif Aku

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ melihat konstitusi manusia sebagai Badan dan Jiwa. Jiwa dianggap sebagai psike, urip dan aku. Aku berfungsi sebagai ‘Aku Kramadangsa’ (AK) dan ‘Aku Tukangnyawang’ (AT). AT indentik dengan ‘Roh’/’Roh Individual’ dalam terminologi van Peursen/Rama Khresna, tidak berpengaruh terhadap AK,walau AT menanggung pengadilan terakhir (kalau ada). AK-lah berhubungan dengan ‘karep’ mengarah kepada pangkat/kekayaan/pengaruh. AK-lah hakekat manusia (isi karep) mengada bersama tubuh sbg ‘individu’. Tubuh adalah obyek AK. Tubuh hidup ketika ada gerak dan karep. ‘Mati’ berarti tak ada gerak dan berkeinginan/berkebutuhan mandi/makan/dsb. AK+AT bersemayam di hati (manah sebagai simbol ‘rasa’). AK dan tubuh menghasilkan tindak,berimplikasi pada ‘lelakon’ dicatat AT. Tindak akan adekwat bila diukur dengan rasa (dengan ukuran 6 SA). Lalu TUHAN (Pemberi Hidup) dalam konteks Imago Dei dimana? YA ADA di kita (manah?) dan di luar-kita. KJ sebenarnya bagian dari faham filsafat Parenealisme. Berpribadikah AKU ? Silakan tebak.

diedit dari Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=8&mforum=salatiga

Posted in Tentang "aku" | 7 Comments »

Kawruh Jiwa sebagai Psikologi Jawa

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ oleh Darmanto Yatman (2000) dianggap sebagai Psikologi Jawa atau secara khusus, karena aspek bahasan didalamnya, menyangkut ‘aku’, ‘rasa’ dan ‘mawas diri’ mengusulkan nama “Psikologi Kramadangsa”. Dalam bukunya ‘Psikologi Jawa’ ia membandingkan pemikiran Ki Ageng Suryamentaram (KAS) dng Maslow dari aspek-aspek: tujuan, obyek material & formal, ruang lingkup, metodologi, konsep-konsep pokok. Yatman juga mencoba memahami pemikiran KAS, terutama tentang ‘aku’ , dengan pemikirannya Sunarto (PANGESTU) tentang ‘Candra Jiwa’.
Yatman memulai menilai pokok pikiran KAS dengan hipotesis ‘Dengan meneliti rasa sendiri, kita akan bebas dari rasa aku dan menghayati rasa manusia sejati’ (p.7 yang dijabarkan dalam hipotesa kerja “Dengan meneliti: (a) rasa tanggapan senang/benci individu terbebas dari rasa senang/benci;(b) rasa-aku dan rasa-sama individu memilah bukan-aku dan bukan-kamu; (c) catatan rasa-bahagia/susahnya sendiri individu terbebas dari rasa-aku nya; (d) dengan a,b,c individu akan menghayati rasa-obyektif manusia tanpa ciri yang tak lain menjadi awas terhadap diri sendiri.
Kesimpulannnya: (a) KJ wejangan KAS bisa disebut ‘pangawikan pribadi’ merupakan gagasan eksplisit dlm tradisi kepustakaan Jawa; (b) Psikologi Indonesia, dalam konteks trasubyektif, historikal, dan nilai-nilai sebaiknya juga menggali psikologi yang mengakar pada budaya masyarakat sendiri; (c) KJ sebagai konsepsi teoritis menyangkut ‘aku’, ‘rasa’ dan ‘mawasdiri’ memenuhi syarat formal & material untuk studi psikologi sebagai Ilmu Jiwa Kramadangsa sebagai etnopsikologi Indonesia.
Yatman dalam buku tersebut secara khusus mentelaah ego dalam Psikologi Modern dengan membandingkan pandangan KAS, Freud, Berne, Haris, Jung, Hardjo Prakoso, Maslow dan Rogers.

Yang terang tak usah malu mempelajari KJ. Tak usah minder membandingkan KJ dengan teori psikologi asal negeri jiran. Mari bergabung mempelajari KJ dalam Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa Salatiga!

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://diskusi.salatiga.biz

Posted in Umum | 1 Comment »

Kawruh Jiwa sebagai Logikopsikologi

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

KJ berasumsi perilaku seseorang selalu logis dan bertujuan. Ada motif dan (ber)kehendak didalamnya. Manusia bermakna karep. Sehingga dengan demikian mereka akan selalu siap/memperhitungkan (sembarang) risiko (material dan psikologis) yang terjadi. Itulah nalar dampak psikologi perbuatan.
Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya, bertindak dulu berfikir kemudian. Mereka menjadi teledor, kurang melakukan analisis dampak.
KJ menganjurkan Subyek melakukan mawas diri nonton arah jalannya kemauan (Aku kramadangsa) dan mengkalkulasi dampaknya, terutama aspek psikologis; apalagi ketika menghadapi masalah. Dengan menggunakan formula “saya mau apapun yng terjadi (bentuk dan wujudnya) saat ini, di sini” plus 6 SA. Subyek menjadi obyektif, tidak lari, tatag dan teges men nanggung resiko. Tidak terjadi pertentangan batin kerna tahu yang pasti terjadi hanyalah susah atau bungah. Tidak mungkin terjadi serentak keduanya. Bukti sejarah Subyek selalu kuat menanggungnya.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=13&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

Kawruh Jiwa dan Ki Ageng Surya Mentaram

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Ki Ageng Suryamentaram (KAS) lahir 22 Mei 1892 adalah putera Hamengku Buawana VII. Mulai berfilsafat 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan di Yogya. Menanggalkan kepangeranannya 1921, kemudian menetap di Kroyo Bringin (9 km utara Salatiga) sebagai petani (1925) sambil menjadi Penceramah Keliling. Substansi ceramahnya, antara lain: berkenaan dengan kepenuhan-hidup dan manusia merdeka, pendidikan, matapencaharian, rumah tangga dan perkawinan.
Wejangan-wejangannya dikenal sebagai “Kawruh Begja” (KB), “Ilmu Bahagia” (IB) dengan metapora “mulur-mungkret” (menyusut-mengembang) sebagai ikon yang sangat dikenal. Setelah KAS meninggal (1962) KB/IB diperkenalkan lagi dengan nama “Kawruh Jiwa” (KJ) (1982). Sepanjang hayat KAS menulis 13 buku dan pelbagai risalah. Tulisan memuat KB/IB dan KJ serta KAS dalam konteks studi sosial politil pulau Jawa lewat aantara lain Geertz (USA,1960), Bonef (Trancis,1970), Yoshi michi (Jepang,1990). Di Fakultas Psikologi UGM, UNDIP, UMS pemikiran KAS diajarkan sebagai ‘endigenous-psycology’. Masyarakat mempelajri KJ dalam KPKJ (Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=11&mforum=salatiga

Posted in Ajaran KAS | 2 Comments »

5. Kawruh Jiwa Memerdekakan

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Ketika kita legawa menerima “realitas hidup saat ini disini begini apapun bentuknya” berarti meletakkan fondasi dan motif dasar ‘kemerdekaan hidup’. Terlebih bila memakai 6 SA sebagai parameternya. Karena kombinasi kedua prinsip tersebut adekwat mengukur kebahagiaan, kedamaian dan motivasi rela hidup berkesekarangan. Melaksanakannya konsisten sehari-hari bukan cara mudah. Hidup berkesekarangan berarti memperlakukan hari ini optimal, meletakkan lelakon diwaktu lampau sebagai sejarah penuh diwarnai kegagalan dan kekecewaan, serta lelakon di masa depan sebagai perspektif berkemungkinan menghadirkan rasa was-was. Manfaatkan waktu hari ini seoptimal dan sepositif mungkin, hari esok jelas akan menjadi sebaik hari ini.
Dengan mengetahui arah kehendak dan melaksanakan sekaligus dua prinsip tersebut di atas , berarti dengan sadar kita telah menggali Pencerahan dan Memerdekakan dari KJ, serta mengaplikasikannya.

diedit dati tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=10&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

4. KAWRUH JIWA DAN NALAR KECUKUPAN

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Ketika manusia (MAN) ‘berarti karep’ yng mengimbas kepada ingin berkuasa terhadap pangkat, kekayaan dan pengaruh. Seolah MAN tidak memiliki nalar-berkecukupan. Realitas empiris mengatakan YA, ia menjadi ke arah jahat. KJ memiliki ukuran kecukupan agar pekerti MAN berbudi. Ukurannya 6 SA yaitu: sakepenake, sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakmestine, sabenere. Keenamnya harus serentak dipertimbangkan dalam keputusan satu tindakan. Nampak pekerti bebas tetapi terikat, nampak longgar tetapi berbudi. Dengan pedoman 6 SA orang tidak mungkin tamak, berlebih, muwah-muwuh. Dengan 6 SA pekerti karep MAN menjadi manusiawi, efisien dan efektif bagi diri sendiri pada satu saat. Dengan 6 SA MAN terbebas dari ketegangan tak berguna karena didalamnya mengandung kontrol-penyesuaian internal: mulur-mungkret. Nalar-kecukupan 6 SA telah teruji, menjadikan MAN tdk ngrangsang, pengin korupsi, dan berspekulasi dalam hidup. Yang terjadi hanya Damai, Kasih (terhadap sesama) dan Bahagia dalam HIDUP ini. Ingin mencoba ? Rumusnya: aplikasikan metapora “apapun yang terjadi, bentuk dan ujudnya, sekarang disini saya mau” lalu masukkan ukuran 6 SA. Setelah coba silahkan reply pengalaman Anda di BLOG ini.  Sukses selalu.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=9&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

Kawruh Jiwa digolongkan Anarkis?

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Mungkin saja karena KJ suka melakukan/memperkenalkan cara dekonstruksi ala Derrida (tokoh postmodern Perancis). Lagi pula para Pelajar yang kritis akan konsisten memegang pengetahuan hasil dekonstruksinya sebagai ‘pangawikan pribadi’, sebagai ‘ganti’ pengetahuan “jare-jarene” yang dianggap (selalu saja) benar (oleh para awam yang rata-rata malas berfikir benar). Kalayak lantas memandang para KJ-wan sebagai ‘nyleneh’ sebagai penentang arus. Para Pelajar tak takut dianggap ‘penyimpang’ karena berbekal pangawikan pribadi itu, ia pernah melakukan pengujian-materiil terhadap pelbagai “bab hidup” yang empiris itu; yang belum pernah orang lain lakukan tetapi tergesa/terlanjur mengakui kebenarannya. La piye. Yang jelas KJ itu filsafat-rasa berkenan dengan tindakan dan dampak psikologinya pada (setiap) manusia. Yang ‘tidak-biasa, belum umum dan selalu konsiten nampaknya telah dianggap orang sebagai (bekal/benih) “anarkis”. Mungkin lho!.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=7&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

Kawruh Jiwa

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Banyak orang tidak mengetahui bahwa Kawruh Jiwa (KJ) adalah psikologi terapan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk memelihara kesehatan-pikiran (rasa) agar seseorang merasakan kebahagian dan kedamaian pribadi. Caranya, antara lain, dengan menghayati ‘apa yang terjadi,disini, begini, apapun bentuknya tidak menolak’.
Semboyan ini menjadikan orang siaga, sabar, dan tidak menghindar dari tanggungjawab. Dengan melaksanakan metapora tsb orang akan mengetahui bahwa:(a) dalam hidup yang terjadi dalam pelbagai perisitiwa saat ini yang silih berganti itu adalah hadirnya rasa bungah/susah;(b) rasa frustasi, bahagia dan damai adalah konstruksi rasa pada pikir kita berdasarkan pencapai karep yang harus dimodifikasikan terus menerus menjadi mulur atau mungkret. Dengan mengetahui arah kekarepan, orang akan sadar ada konsekuensi bila gegayuhan tersebut menjadi tindakan interaksi atau desain perilaku sosial terhadap sesama; (c) hakekat rasa damai dan bahagia hadir dari dalam-diri, sebagai pengalaman pribadi yang subyektif. Rasa damai dan bahagia yang berasal dari luar, misalnya ajaran/doktrin, adalah semu dan tidak nyata.

diedit dari tulisan Tri Kadarsila di http://www.instantbulletin.com/forum/viewtopic.php?t=6&mforum=salatiga

Posted in Umum | Leave a Comment »

Selamat Datang…

Posted by Wijayanto on September 21, 2007

Selamat datang di blog “ILMU BAHAGIA”

Tempat menuliskan ajaran-ajaran “kawruh begja” dari Ki Ageng Suryamentaram, serta TAFSIR dari ajaran-ajaran tersebut menurut para pemerhatinya.

Jika Anda berminat menjadi kontributor dari blog ini, silakan hubungi email wit@salatiga.biz

tks,

admin

Posted in Umum | Leave a Comment »